Menentukan titik pengeboran sumur dalam tanpa informasi mengenai kondisi bawah permukaan memiliki risiko sumur kering (dry hole) yang sangat tinggi. Tim Jelajah Energi Resources baru saja menyelesaikan survei geolistrik untuk investigasi potensi air tanah di lokasi PT Bumi Lestari Unggul Ekosistem. Berikut ringkasan pendekatan dan hasil pekerjaannya.
Survei geolistrik digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi bawah permukaan berdasarkan variasi resistivitas batuan. Nilai resistivitas dapat memberikan informasi mengenai perbedaan jenis material, tingkat kejenuhan, dan kondisi geologi bawah permukaan. Hasil tersebut kemudian diintegrasikan dengan informasi geologi dan hidrogeologi untuk mengidentifikasi zona yang berpotensi sebagai akuifer.
Panjang bentangan elektroda juga berpengaruh terhadap kedalaman investigasi. Pada pekerjaan ini, digunakan bentangan kabel sekitar 600 meter untuk memperoleh gambaran kondisi bawah permukaan hingga kedalaman yang dibutuhkan.

Tahapan Pekerjaan Geolistrik
Survei geolistrik dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis, mulai dari perencanaan lintasan, pengambilan data di lapangan, pengolahan dan pemeriksaan kualitas data, hingga interpretasi untuk menentukan zona yang berpotensi sebagai akuifer dan rekomendasi lokasi pengeboran.
- Persiapan: validasi batas area survei, analisis topografi dan citra satelit, serta perancangan lintasan.
- Akuisisi data lapangan: injeksi arus listrik dan pengukuran beda potensial menggunakan sistem multi-elektroda.
- Quality control: pemeriksaan kualitas data dan penyaringan data yang terpengaruh noise atau kontak elektroda yang kurang baik.
- Inversi 2D & koreksi topografi: mengolah data resistivitas semu menjadi penampang resistivitas bawah permukaan.
- Interpretasi & rekomendasi titik bor: menginterpretasikan kondisi bawah permukaan dengan mengintegrasikan hasil ERT, VES, serta informasi geologi dan hidrogeologi.

Hasil & Rekomendasi titik bor
Potensi hidrogeologi paling menjanjikan pada GL-03 justru ditemukan pada zona anomali kedua yang menempati rentang jarak 320 hingga 370 meter dari titik awal lintasan.
GL-03 memiliki dua zona prospek:
- Zona 1: 160–210 m, kedalaman ±60 m, akuifer batupasir setebal ±48,8 m
- Zona 2: 320–370 m, kedalaman ±40 m, terindikasi menerus dengan zona GL-01
Dari kedua zona tersebut, Zona 2 dinilai lebih prospektif. Berdasarkan interpretasi penampang resistivitas 2D yang dikorelasikan dengan hasil VES (Vertical Electrical Sounding), area pada jarak sekitar 340–350 meter direkomendasikan sebagai kandidat utama lokasi pengeboran.
Pada area tersebut, formasi batupasir tufaan diinterpretasikan sebagai lapisan yang berpotensi menjadi akuifer, dengan ketebalan sekitar 49 meter, mulai dari kedalaman sekitar 29 hingga 78 meter.
Perlu diperhatikan bahwa survei geolistrik tidak secara langsung mendeteksi air tanah. Data resistivitas digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik bawah permukaan yang kemudian diinterpretasikan bersama kondisi geologi dan hidrogeologi. Karena itu, hasil survei menjadi dasar untuk menentukan zona yang paling prospektif sebelum dilakukan pengeboran.
Dengan pendekatan ini, survei geolistrik dapat membantu mengurangi ketidakpastian dalam penentuan lokasi pengeboran, sehingga penggunaan waktu, biaya mobilisasi alat, dan kegiatan pengeboran dapat dilakukan dengan lebih terarah.
