Kawasan Trowulan, Mojokerto, merupakan pusat kerajaan Majapahit abad ke-14 yang banyak menyimpan peninggalan bersejarah. Namun, sebagian besar struktur kuno kota ini masih terkubur misterius di dalam tanah.
Eksplorasi arkeologi yang bersifat non-destruktif sangat dibutuhkan untuk memperoleh gambaran awal mengenai keberadaan struktur kuno tanpa merusak atau mengganggu lapisan tanah yang berpotensi mengandung nilai sejarah. Dalam konteks ini, metode Ground Penetrating Radar (GPR) dipandang sebagai salah satu teknologi yang tepat.
Metode Ground Penetrating Radar (GPR) dipilih karena mampu mendeteksi anomali bawah tanah secara non-destruktif dengan resolusi tinggi. Melalui GPR, diharapkan dapat diperoleh gambaran awal mengenai keberadaan struktur arsitektural kuno seperti pondasi, tembok bata, saluran air, maupun ruang bawah tanah di kawasan Trowulan.
Tujuan Investigasi
Tujuan dari kegiatan investigasi arkeologi kawasan Situs Trowulan yaitu:
- Mengidentifikasi indikasi keberadaan struktur bawah permukaan yang berkaitan dengan aktivitas arkeologis masa lalu.
- Menyusun peta sebaran anomali geofisika yang dapat mengindikasikan struktur bata, lantai kuno, saluran air, atau sumur.
- Menyediakan data pendukung bagi pelaksanaan ekskavasi arkeologi yang lebih terarah dan efisien.

Cakupan Kegiatan
Persiapan & Kalibrasi
Tim melakukan studi data sejarah, menentukan titik prioritas, membuat grid pengukuran, serta melakukan uji terbang dan kalibrasi sensor di lokasi.
Akuisisi Makro dengan Drone-GPR (AeroGPR)
- Alat & Ketinggian: Sensor radar ringan digantung pada drone yang terbang rendah konstan (3–5 meter).
- Kedalaman: Menggunakan frekuensi 150 MHz untuk menyisir area luas dengan daya tembus hingga ±5 meter.
Akuisisi Mikro dengan Land-GPR (GPR Darat)
- Alat & Akurasi: Unit radar ditarik manual di atas permukaan tanah menggunakan frekuensi tinggi 300 MHz.
- Kedalaman: Fokus pada resolusi detail tinggi untuk kedalaman dangkal hingga ±2 meter.
Pengolahan Data Kontemporer
Data mentah dari udara dan darat diproses terpisah melalui filtering (dewow, bandpass, background removal) dan time slice analysis, lalu dikombinasikan untuk menghasilkan peta sebaran anomali yang komprehensif.
Interpretasi Pola Arkeologis
Hasil grafik radar diterjemahkan berdasarkan karakteristik tata kota Majapahit:
- Pola Linear & Horizontal: Mengindikasikan struktur dinding bata besar atau lantai kuno.
- Pola Melingkar (Circular): Mengindikasikan keberadaan sumur kuno atau fasilitas air.
Pelaporan & Rekomendasi Ekskavasi
Seluruh data visual 2D/3D dikemas dalam laporan akhir sebagai panduan akurat bagi tim arkeolog agar proses ekskavasi selanjutnya berjalan efisien, terarah, dan hemat anggaran.
Hasil Pengamatan GPR

Akuisisi data dibagii menjadi 8 Area. Area kosong merupakan area yang tidak dapat di ukur baik dengan GPR drone dan GPR land karena adanya pohon, kabel, dan veegetasi tebu pada ketinggian 3-5 meter sehingga tidak dapat di akses. Untuk area pengukuran di bagi menjadi 2 yaitu area akuisisi yang dapat di akses oleh Land GPR dan area yang di akuisisi oleh Drone GPR.
Berikut merupakan contoh data yang dihasilkan AeroGPR dimana terdapat pola rekahan (kotak kuning) yang diasumsikan merupakan akar tanaman yang sangat rapat. Hasil kemudian dapat mengganggu interpretasi pada data sehingga sangat sulit mengambil informasi dari data tersebut.

Kesimpulan
Metode Aero GPR berhasil memetakan kondisi bawah permukaan di area Situs Trowulan, namun proses identifikasi artefak kuno menghadapi kendala teknis yang signifikan:
- Kendala Lapangan: Vegetasi yang rapat dan tinggi memaksa drone terbang terlalu tinggi. Akibatnya, data mengalami noise udara yang besar, serta terjadi bias identifikasi karena ukuran akar tanaman serupa dengan resolusi target artefak pada kedalaman yang sama.
- Temuan Data: Pada area terbuka, data menunjukkan adanya jejak aktivitas penggalian, penimbunan, dan pemadatan tanah, yang terdeteksi sebagai perubahan lapisan geologi sekunder (anomali kontras rendah).
- Potensi Artefak: Meskipun ditemukan beberapa titik dengan pola anomali signifikan yang berpotensi sebagai struktur kuno, secara keseluruhan peluang adanya sisa artefak kuno di area ini dinilai sangat kecil akibat dampak aktivitas galian dan timbunan tersebut.

